JAKARTA, ArgumenRakyat.com – Peta persaingan teknologi personal di penghujung tahun 2025 mengalami pergeseran dramatis. Dekade dominasi ponsel pintar (smartphone) mulai mendapatkan tantangan serius dari generasi baru perangkat Wearable AI tanpa layar. Perangkat berbentuk kacamata pintar (smart glasses), pin cerdas, hingga cincin pintar kini menjadi primadona baru yang menawarkan interaksi manusia dengan teknologi secara lebih natural dan instan.
Tren ini menandai dimulainya era “Screenless Tech” (Teknologi Tanpa Layar), di mana pengguna tidak lagi harus menunduk menatap layar, melainkan berinteraksi melalui suara, gestur, dan visi berbasis AI.
Kacamata Pintar dan AI Pin: Senjata Utama Baru
Dua perangkat yang paling menonjol dalam persaingan ini adalah kacamata pintar generasi terbaru dan perangkat semat (AI Pin). Berbeda dengan pendahulunya, perangkat di akhir 2025 ini telah dilengkapi dengan asisten virtual yang jauh lebih cerdas:
-
Visi Real-Time: Kamera pada kacamata pintar kini mampu mendeteksi objek di depan mata secara real-time. Pengguna cukup bertanya, “Berapa kalori makanan ini?” atau “Di mana toko sepatu terdekat?”, dan AI akan menjawab langsung melalui audio di telinga.
-
Terjemahan Instan: Dalam pertemuan bisnis internasional, perangkat ini mampu menerjemahkan percakapan lawan bicara secara langsung (live translation) ke dalam bahasa Indonesia lewat earpiece tanpa jeda berarti.
-
Integrasi Asisten Suara: Tanpa perlu mengetik, pengguna bisa memerintahkan AI untuk membalas pesan WhatsApp, mengatur jadwal pertemuan, hingga memesan transportasi online hanya melalui perintah suara.
Alasan di Balik Popularitas “Tanpa Layar”
Pakar teknologi menyebutkan bahwa popularitas wearable AI didorong oleh keinginan masyarakat untuk mengurangi durasi menatap layar (screen time) yang sering memicu kelelahan mata dan isolasi sosial.
“Masyarakat mulai jenuh dengan distraksi konstan dari layar ponsel. Wearable AI menawarkan fungsi yang sama dengan ponsel namun tetap membiarkan pengguna hadir sepenuhnya di dunia nyata,” ungkap seorang analis tren digital kepada ArgumenRakyat.com (25/12).
Tantangan Privasi dan Etika
Meskipun canggih, perangkat yang selalu “melihat” dan “mendengar” ini memicu perdebatan mengenai privasi di ruang publik. Kekhawatiran akan perekaman video tanpa izin menjadi isu utama yang tengah digodok oleh regulator di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Beberapa produsen merespons dengan menambahkan indikator lampu LED yang sangat terang saat kamera aktif sebagai bentuk transparansi kepada orang-orang di sekitar pengguna.
Masa Depan: Smartphone Sebagai “Otak” Tersembunyi
Meskipun wearable AI sedang naik daun, para ahli memprediksi ponsel pintar tidak akan hilang sepenuhnya dalam waktu dekat. Sebaliknya, ponsel akan berubah peran menjadi pusat pemrosesan data (hub) yang disimpan di saku, sementara interaksi harian dilakukan sepenuhnya melalui perangkat yang kita kenakan di tubuh.







![Penetapan Indonesia sebagai Dewan HAM PBB 2026. [Foto: kemlu.go.id]](https://argumenrakyat.com/wp-content/uploads/2026/01/IMG_20260110_160318-e1768216728409-360x200.jpg)

