JAKARTA, ArgumenRakyat.com – Sektor perbankan nasional kini menghadapi tantangan keamanan siber yang kian kompleks di penghujung tahun 2025. Muncul tren serangan baru yang memanfaatkan teknologi Deepfake—rekayasa wajah dan suara berbasis AI—untuk mengelabui sistem verifikasi biometrik. Modus ini memungkinkan pelaku meniru identitas nasabah secara sangat akurat, sehingga memicu kekhawatiran serius terkait keamanan dana di rekening bank.
Para pakar keamanan siber memperingatkan bahwa teknologi AI yang dulunya hanya digunakan untuk hiburan, kini telah dipersenjatai untuk melakukan penipuan finansial skala besar.
Bagaimana Deepfake Menembus Keamanan Bank?
Sistem keamanan perbankan modern umumnya mengandalkan fitur Face Recognition (pengenalan wajah) atau verifikasi suara untuk memberikan persetujuan transaksi besar atau pembukaan rekening secara daring (online). Namun, penjahat siber kini menggunakan algoritma AI canggih untuk:
-
Manipulasi Video Real-time: Pelaku menciptakan “topeng digital” yang bisa berkedip, berbicara, dan bergerak mengikuti instruksi sistem verifikasi wajah saat melakukan panggilan video dengan layanan pelanggan bank.
-
Voice Cloning: Hanya dengan sampel suara berdurasi beberapa detik, AI dapat meniru nada, dialek, dan intonasi suara nasabah untuk melewati sistem perintah suara atau menipu staf call center.
-
Rekayasa Identitas Ganda: Menggabungkan data identitas asli yang bocor di dark web dengan visual deepfake untuk menciptakan identitas palsu yang tampak sah.
Dampak dan Kerugian Nasional
Berdasarkan data pantauan aktivitas keamanan digital Desember 2025, tercatat adanya lonjakan laporan nasabah yang kehilangan dana tanpa merasa memberikan kode OTP atau kata sandi. Dalam beberapa kasus, sistem bank mendeteksi transaksi sebagai “sah” karena pelaku berhasil melewati pemindaian wajah biometrik yang seharusnya menjadi benteng terakhir.
“Deepfake telah mengubah peta ancaman siber. Kini, ‘melihat’ bukan lagi berarti ‘percaya’. Bank-bank di Indonesia harus segera meng-upgrade sistem mereka dari sekadar biometrik statis ke biometrik perilaku (behavioral biometrics),” tegas seorang analis keamanan siber dalam diskusi di Jakarta (25/12).
Respons Industri: ‘AI Melawan AI’
Menanggapi ancaman ini, sejumlah bank besar mulai mengadopsi teknologi Liveness Detection generasi terbaru. Teknologi ini mampu mendeteksi tekstur kulit, denyut nadi halus di wajah, hingga pantulan cahaya pada mata untuk membedakan antara manusia asli dengan rekayasa layar digital.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga dikabarkan tengah menyiapkan regulasi baru yang mewajibkan lembaga keuangan memperketat verifikasi berlapis (multi-factor authentication) yang tidak hanya mengandalkan biometrik visual, tetapi juga pola perilaku transaksi nasabah.
Tips Aman Bagi Nasabah
Masyarakat dihimbau untuk lebih waspada dan melakukan langkah pencegahan mandiri:
-
Jangan pernah memberikan sampel suara atau video wajah kepada pihak tak dikenal melalui aplikasi pesan singkat.
-
Gunakan fitur Double Authentication yang menggabungkan biometrik dengan kunci fisik atau token keamanan.
-
Segera lapor jika menemukan aktivitas mencurigakan pada mutasi rekening meskipun tidak ada notifikasi masuk.







![Penetapan Indonesia sebagai Dewan HAM PBB 2026. [Foto: kemlu.go.id]](https://argumenrakyat.com/wp-content/uploads/2026/01/IMG_20260110_160318-e1768216728409-360x200.jpg)

