JAKARTA, ArgumenRakyat.com – Pemandangan berbeda kini terlihat di sepanjang jalur tol Trans Jawa dan Trans Sumatera. Sebab, mobil listrik (EV) telah menjadi primadona baru masyarakat saat libur Tahun Baru 2026. Namun, lonjakan penggunaan ini menyisakan catatan kritis bagi pengelola infrastruktur nasional.
Data Kemenhub: Lonjakan Pengguna EV Mencapai 40 Persen
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat volume kendaraan listrik meningkat secara drastis. Bahkan, jumlahnya naik 40 persen jika kita bandingkan dengan periode tahun lalu. Oleh karena itu, masyarakat kini tampak lebih percaya diri menggunakan EV untuk perjalanan jarak jauh.
Beberapa faktor utama yang memicu tren ini antara lain:
-
Bebas Ganjil-Genap: Pengguna EV menikmati akses jalan tanpa hambatan jadwal.
-
Efisiensi Biaya: Biaya pengisian daya jauh lebih murah daripada membeli BBM konvensional.
-
Jarak Tempuh: Mobil listrik keluaran 2025 mampu menempuh jarak di atas 500 km dalam sekali pengisian.
Evaluasi SPKLU: Mengapa Antrean Masih Terjadi?
Sayangnya, kesuksesan tren ini terhambat oleh kesiapan infrastruktur di lapangan. Sebagai contoh, pantauan tim kami menunjukkan antrean panjang di Rest Area KM 57 dan KM 207. Akibatnya, para pengemudi harus menunggu hingga dua jam hanya untuk mengisi daya baterai.
Masalah utama yang ditemukan meliputi:
-
Soket Terbatas: Jumlah alat pengisi daya tidak sebanding dengan ledakan populasi mobil baru.
-
Waktu Tunggu: Proses fast charging tetap memakan waktu sekitar 45 menit per kendaraan.
-
Perangkat Rusak: Beberapa unit SPKLU tidak berfungsi optimal karena pemakaian yang berlebih.
Argumen Kita: Urgensi Penambahan Mobile Charging
Oleh sebab itu, pemerintah harus segera merespons kondisi darurat ini. Kita tidak boleh membiarkan inovasi hijau ini terjegal oleh birokrasi yang lamban. Selain itu, penambahan unit Ultra Fast Charging secara masif sudah menjadi harga mati.
“Pemerintah perlu mewajibkan setiap rest area memiliki minimal 10 unit pengisi daya,” tegas redaksi ArgumenRakyat.com. Jika tidak, ketakutan masyarakat akan kehabisan baterai akan muncul kembali. Selanjutnya, hal ini bisa menghambat agenda dekarbonisasi nasional yang sedang berjalan.
Manajemen Baterai Mobil Listrik Saat Terjebak Macet
Terakhir, bagi para pengguna EV, manajemen daya adalah kunci utama keselamatan. Maka dari itu, pastikan baterai Anda tetap berada di atas 30 persen sebelum memasuki titik macet. Kemudian, gunakan fitur eco-mode untuk menghemat energi saat mobil berhenti dalam waktu lama.(**)
Sumber Informasi:
-
Rilis Resmi Kementerian Perhubungan RI (Januari 2026).
-
Laporan Harian Posko Mudik Korlantas Polri.
-
Hasil Investigasi Lapangan Tim ArgumenRakyat.







![Penetapan Indonesia sebagai Dewan HAM PBB 2026. [Foto: kemlu.go.id]](https://argumenrakyat.com/wp-content/uploads/2026/01/IMG_20260110_160318-e1768216728409-360x200.jpg)

