Subsidi Energi Diperketat, Beban Rumah Tangga Kian Terimpit

- Jurnalis

Kamis, 12 Februari 2026 - 14:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Subsidi Energi Diperketat, Beban Rumah Tangga Kian Terimpit, ( Foto AI )

Ilustrasi Subsidi Energi Diperketat, Beban Rumah Tangga Kian Terimpit, ( Foto AI )

ArgumenRakyat.com — Jakarta, Pemerintah Indonesia tengah memperketat alokasi subsidi energi dengan tujuan memperbaiki efektivitas penyaluran kepada kelompok yang benar-benar membutuhkan. Namun, langkah ini berpotensi menambah tekanan ekonomi bagi rumah tangga berpenghasilan rendah dan menengah, terutama di tengah naiknya harga kebutuhan pokok.

Pengetatan subsidi energi yang mencakup listrik, bahan bakar minyak (BBM), dan elpiji 3 kilogram (kg) menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperbaiki ketepatan sasaran bantuan sosial. Kebijakan ini dinilai penting oleh pemerintah karena selama ini masih terdapat bagian subsidi yang dinikmati oleh pihak yang tidak masuk dalam kategori miskin atau rentan.

Potensi Beban Anggaran yang Melebar
Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan mencatat bahwa subsidi energi dan kompensasi diperkirakan bisa mencapai Rp400 triliun pada tahun 2026 jika tidak dikendalikan, terutama akibat alokasi untuk BBM dan listrik yang dinikmati oleh rumah tangga mampu. Target pemerintah adalah memastikan subsidi hanya dinikmati kelompok yang masuk dalam daftar penerima bantuan sosial resmi, yaitu Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

Subsidi listrik untuk rumah tangga kecil seperti pelanggan 450 VA dan 900 VA tetap dipertahankan, tetapi ada penyesuaian tarif bagi pelanggan nonsubsidi yang dapat membuat tagihan listrik menjadi lebih tinggi. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah mengarahkan subsidi kepada rumah tangga yang paling membutuhkan.

Baca Juga:  Sorotan Pasal Kontroversial: Penghinaan Pejabat dan Ancaman di Ranah Privat

Masih Banyak Subsidi yang Tidak Tepat Sasaran
Menurut keterangan pejabat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sekitar 20–30 persen dari subsidi BBM dan listrik diperkirakan tidak tepat sasaran, artinya masih dinikmati oleh kelompok yang tidak membutuhkan. Nilai estimasi dari bagian yang dinilai tidak tepat sasaran ini mencapai sekitar Rp100 triliun.

Survei media menunjukkan bahwa konsumsi BBM bersubsidi seperti Pertalite masih tinggi di kalangan rumah tangga kelas menengah, sementara listrik bersubsidi sering dinikmati di luar kategori miskin yang menjadi sasaran awal program. Kondisi ini menjadi salah satu alasan utama pemerintah memutuskan untuk memperketat alokasi subsidi lebih lanjut.

Tekanan Ekonomi Rumah Tangga
Sejumlah ekonom mengatakan bahwa pengetatan subsidi perlu diikuti dukungan sosial yang memadai agar tidak membebani kelompok rumah tangga yang berpendapatan rendah. Tanpa kompensasi yang tepat sasaran—seperti bantuan langsung tunai atau insentif lainnya—penyesuaian subsidi berpotensi menekan daya beli masyarakat di tengah inflasi harga kebutuhan pokok.

Baca Juga:  Penataan Data JKN 2026: Pemerintah Nonaktifkan 11 Juta Peserta PBI BPJS Kesehatan

“Reformasi subsidi perlu dilakukan, tetapi pemerintah harus memastikan bahwa dampaknya tidak membuat kelompok rentan semakin tertekan,” ujar seorang analis ekonomi kepada media nasional.

Tantangan Pemerintah ke Depan
Pemerintah menyatakan bahwa reformasi subsidi energi merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi makro dan memperbaiki efisiensi anggaran negara. Namun, tantangan utama tetap bagaimana memastikan bahwa kebijakan tersebut tidak justru menambah beban masyarakat kecil yang sehari-hari hidup dari pendapatan rendah.

Dengan adanya pengetatan ini, publik dan pengamat menilai bahwa inovasi dalam penyaluran bantuan sosial serta mekanisme kompensasi yang adil perlu terus dikembangkan agar subsidi benar-benar mencapai sasaran yang tepat.

Sumber Berita:

• BloombergTechnoz – Potensi subsidi energi mencapai Rp400 triliun pada 2026
• DetikFinance – Alokasi subsidi BBM dan listrik dalam RAPBN 2025
• Antara News – Nilai subsidi tak tepat sasaran mencapai Rp100 triliun
• Neraca – Analisis alokasi subsidi energi di masyarakat

Berita Terkait

Tragedi Berdarah di Kota Tual: Siswa MTs Tewas Dianiaya Oknum Brimob, DPR RI Selly Gantina: Ini Keji dan Biadab!
Pemerintah Tambah TKD Rp10,65 Triliun untuk Pemulihan Pascabencana Sumatra 2026, Rp4,2 Triliun Cair Februari
Lukisan “Kuda Api” Karya Susilo Bambang Yudhoyono Laku Dilelang Rp6,5 Miliar
Fenomena ‘Gamis Bini Orang’ Guncang Tren Lebaran 2026: Dari Viral TikTok Hingga Tembus Pasar Afrika
Comeback Politik: Ahmad Sahroni Resmi Kembali Jabat Wakil Ketua Komisi III DPR RI Usai Jalani Sanksi 6 Bulan
Kenapa Muhammadiyah dan Arab Saudi Bisa Sepakat? Ini Penjelasan Awal Ramadan 1447 H
Polri Miliki 1.179 SPPG, Program MBG Serap Sekitar 58 Ribu Tenaga Kerja
Selama Ramadan, BGN Sesuaikan Distribusi Program Makan Bergizi Gratis

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 22:51 WIB

Tragedi Berdarah di Kota Tual: Siswa MTs Tewas Dianiaya Oknum Brimob, DPR RI Selly Gantina: Ini Keji dan Biadab!

Jumat, 20 Februari 2026 - 04:51 WIB

Pemerintah Tambah TKD Rp10,65 Triliun untuk Pemulihan Pascabencana Sumatra 2026, Rp4,2 Triliun Cair Februari

Kamis, 19 Februari 2026 - 17:34 WIB

Fenomena ‘Gamis Bini Orang’ Guncang Tren Lebaran 2026: Dari Viral TikTok Hingga Tembus Pasar Afrika

Kamis, 19 Februari 2026 - 15:24 WIB

Comeback Politik: Ahmad Sahroni Resmi Kembali Jabat Wakil Ketua Komisi III DPR RI Usai Jalani Sanksi 6 Bulan

Selasa, 17 Februari 2026 - 17:04 WIB

Kenapa Muhammadiyah dan Arab Saudi Bisa Sepakat? Ini Penjelasan Awal Ramadan 1447 H

Berita Terbaru