JAKARTA, ArgumenRakyat.com – Dinamika politik Indonesia di pengujung 2025 semakin kompleks. Di tengah euforia libur akhir tahun, isu-isu strategis mengenai nasib demokrasi lokal dan pergeseran kekuatan di internal kabinet justru mencuat ke permukaan. Berikut adalah tiga laporan utama kami:
1. Wacana Pilkada Lewat DPRD: Kemunduran atau Solusi Efisiensi?
Gelombang penolakan dari berbagai koalisi masyarakat sipil kini sedang tertuju pada wacana pengembalian pemilihan kepala daerah (Pilkada) ke tangan DPRD. Para pengamat politik menilai langkah ini berisiko memperkuat politik elite dan memutus kontrak langsung antara rakyat dengan pemimpinnya.
“Ini adalah pertaruhan besar bagi kualitas demokrasi kita. Jika Pilkada kembali ke DPRD, legitimasi kepala daerah akan sangat rentan terhadap tekanan partai politik di daerah,” tulis tim riset ArgumenRakyat.
2. Kabinet Merah Putih: Purbaya Yudhi Sadewa Pimpin Kementerian Keuangan Pasca-Sri Mulyani
Setelah perombakan besar (reshuffle) yang dilakukan Presiden Prabowo beberapa waktu lalu, fokus publik tertuju pada Purbaya Yudhi Sadewa yang kini memegang kendali penuh atas kebijakan fiskal nasional menggantikan Sri Mulyani Indrawati. Publik menanti apakah transisi ini mampu menjaga stabilitas ekonomi di tengah ancaman resesi global 2026 atau justru membawa arah kebijakan ekonomi yang lebih nasionalis-populis.
3. Terobosan “Work From Mall”: ASN Mulai Uji Coba WFA di Pusat Perbelanjaan
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengejutkan publik dengan mendorong program Work From Anywhere (WFA) yang unik, yakni bekerja dari pusat perbelanjaan (Work From Mall). Kebijakan ini merupakan bagian dari stimulus pemerintah untuk mendongkrak konsumsi domestik hingga Rp110 triliun di akhir tahun. Namun, di balik itu, muncul kritik mengenai efektivitas kinerja birokrasi dan bagaimana pengawasannya dilakukan agar tidak sekadar menjadi “libur terselubung” bagi ASN.
Analisis Argumen Rakyat
Transformasi struktur pemerintahan yang dipadukan dengan kebijakan ekonomi yang tidak konvensional menunjukkan bahwa rezim saat ini sedang berupaya melakukan akselerasi cepat. Namun, ancaman pelemahan demokrasi melalui wacana Pilkada DPRD menjadi “catatan hitam” yang harus terus dikawal agar kedaulatan tidak sepenuhnya berpindah dari tangan rakyat ke meja makan para politisi.(**)







![Penetapan Indonesia sebagai Dewan HAM PBB 2026. [Foto: kemlu.go.id]](https://argumenrakyat.com/wp-content/uploads/2026/01/IMG_20260110_160318-e1768216728409-360x200.jpg)

