JAKARTA, ArgumenRakyat.com — Pasar aset digital global mencatatkan sejarah baru pada pertengahan Januari 2026 dengan Bitcoin (BTC) secara resmi menembus level psikologis baru di angka Rp1,6 miliar per koin. Kenaikan signifikan ini membawa nilai tukar Bitcoin menyentuh titik puncak di kisaran 97.500 dollar AS, didorong oleh kombinasi adopsi institusional yang masif dan kondisi makroekonomi yang stabil.
Pendorong utama reli harga kali ini adalah aliran dana masuk (inflow) yang luar biasa ke produk spot Bitcoin Exchange-Traded Funds (ETF) di Amerika Serikat. Laporan pasar menunjukkan bahwa ETF milik BlackRock (IBIT) mencatatkan rekor inflow sebesar Rp13,1 triliun dalam sepekan terakhir. Sementara itu, produk ETF milik Fidelity (FBTC) menyerap sekitar 351 juta dollar AS dalam satu hari perdagangan, menandakan keyakinan tinggi para investor besar terhadap potensi aset digital ini. Secara akumulatif, total aset bersih seluruh Bitcoin ETF kini telah mencapai angka Rp2.727 triliun.
Selain faktor institusional, sentimen positif juga dipicu oleh rilis data inflasi Amerika Serikat periode Desember 2025 yang sesuai dengan ekspektasi pasar. Berdasarkan data dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), inflasi tahunan berada di level 2,7 persen dengan inflasi inti yang terkendali pada angka 2,6 persen. Stabilitas inflasi ini memberikan sinyal bahwa bank sentral AS (The Fed) memiliki ruang untuk mempertahankan atau menurunkan suku bunga acuan guna mendukung pertumbuhan ekonomi, sebuah kondisi yang secara historis menguntungkan aset berisiko seperti kripto.
Menanggapi rekor baru ini, sejumlah analis industri memproyeksikan bahwa Bitcoin berpotensi terus menguat hingga menembus angka 100.000 hingga 175.000 dollar AS sepanjang tahun 2026. Para ahli menilai bahwa struktur pasar saat ini telah bergeser ke “era institusional”, di mana Bitcoin tidak lagi digerakkan oleh spekulasi ritel semata, melainkan oleh permintaan sebagai pelindung nilai alternatif di tengah tingginya utang global. Namun, investor tetap diingatkan untuk waspada terhadap volatilitas pasar dan potensi tekanan geopolitik yang dapat memengaruhi pergerakan harga sewaktu-waktu.
Sumber Referensi:
-
Laporan Analisis Pasar Kripto Indodax & Pintu (Januari 2026)
-
Data Ekonomi Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS)
-
Laporan Aliran Dana ETF Bitcoin Spot (Bloomberg & SoSoValue)
-
Analisis Proyeksi Harga Kripto Standard Chartered & CoinShares







![Penetapan Indonesia sebagai Dewan HAM PBB 2026. [Foto: kemlu.go.id]](https://argumenrakyat.com/wp-content/uploads/2026/01/IMG_20260110_160318-e1768216728409-360x200.jpg)

