JAKARTA, ArgumenRakyat.com – Tepat hari ini, Selasa (30/12), bangsa Indonesia memperingati 16 tahun berpulangnya KH Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur. Tokoh bangsa, guru bangsa, sekaligus Presiden ke-4 Republik Indonesia ini wafat pada 30 Desember 2009, namun pemikiran dan semangatnya tentang pluralisme justru terasa semakin relevan di tengah dinamika sosial politik saat ini.
Di berbagai sudut tanah air, mulai dari pesantren di Jombang hingga komunitas lintas iman di Jakarta, doa bersama dan diskusi kebudayaan digelar untuk mengenang sosok yang dikenal dengan jargon khasnya, “Gitu aja kok repot.”
Lebih dari Sekadar Pemimpin Politik
Bagi banyak kalangan, Gus Dur bukan sekadar mantan presiden. Beliau adalah simbol perlawanan terhadap diskriminasi dan pembela kaum minoritas. ArgumenRakyat.com mencatat bahwa keberanian Gus Dur dalam melegalkan perayaan Imlek dan mengakui Konghucu sebagai agama resmi adalah tonggak sejarah yang mengubah wajah demokrasi Indonesia menjadi lebih inklusif.
“Gus Dur mengajarkan kita bahwa di atas politik, ada kemanusiaan. Warisan inilah yang harus kita rawat, terutama saat narasi intoleransi masih kerap muncul di media sosial,” ungkap salah satu tokoh lintas agama dalam acara Haul Gus Dur di Jakarta.
Pluralisme di Era Digital: Tantangan Baru
Memperingati 16 tahun kepergiannya, tantangan merawat pluralisme kini bergeser ke ranah digital. Jika dahulu Gus Dur berjuang melawan sekat-sekat fisik dan regulasi yang diskriminatif, kini generasi penerus “Gusdurian” dihadapkan pada arus disinformasi dan hate speech yang mampu memecah belah bangsa dalam sekejap.
Gerakan pemuda dan aktivis hari ini terus berupaya membumikan pemikiran Gus Dur melalui konten kreatif, menekankan bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekayaan yang menjadi fondasi berdirinya Indonesia.
Keteladanan yang Dirindukan
Di tengah persiapan menyambut tahun 2026, sosok Gus Dur tetap menjadi “kompas moral” bagi banyak orang. Kerendahhatiannya dalam menerima kritik serta selera humornya yang tajam namun penuh makna sering kali dirindukan oleh rakyat yang merindukan kesejukan di tengah panasnya tensi isu-isu nasional.
Hingga malam ini, kediaman Gus Dur di Ciganjur serta kompleks makam di Tebuireng masih terus didatangi peziarah dari berbagai latar belakang suku dan agama. Ini menjadi bukti sahih bahwa meski raga Gus Dur telah tiada, spirit keberagaman yang ia tanamkan telah mengakar kuat di hati sanubari rakyat.
Catatan ArgumenRakyat
Merawat warisan Gus Dur bukan sekadar merayakan seremonial setiap tanggal 30 Desember. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana setiap individu mampu mempraktikkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari, berani membela yang tertindas, dan tetap menjaga selera humor meski situasi bangsa sedang “repot”.







![Penetapan Indonesia sebagai Dewan HAM PBB 2026. [Foto: kemlu.go.id]](https://argumenrakyat.com/wp-content/uploads/2026/01/IMG_20260110_160318-e1768216728409-360x200.jpg)

