JAKARTA, ArgumenRakyat.com – Dinamika politik nasional di penghujung tahun 2025 tidak menunjukkan tanda-tanda mendingin. Di tengah fokus pemerintah menangani bencana di Sumatera, eskalasi politik justru meningkat di level daerah dan parlemen. Dua isu utama menjadi sorotan hari ini: restrukturisasi kekuatan PDI Perjuangan di Jawa Tengah dan perdebatan sengit mengenai masa depan mekanisme pemilihan kepala daerah.
PDIP Jateng di Bawah Komando Dolfie Othniel: Persiapan 2029?
Langkah mengejutkan datang dari partai berlambang banteng moncong putih. Dolfie Othniel resmi dilantik sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah untuk masa jabatan 2025-2030. Pelantikan ini dipandang sebagai langkah strategis Ketua Umum Megawati Soekarnoputri untuk mengamankan “Kandang Banteng” yang sempat goyah pada pemilu sebelumnya.
Dolfie menegaskan bahwa arahan pusat sangat jelas: melakukan regenerasi total di tingkat akar rumput dan memastikan mesin partai tetap panas untuk menghadapi kontestasi politik jangka panjang. Pengamat melihat ini sebagai pesan kuat bahwa PDIP mulai menyusun barisan sejak dini guna merebut kembali dominasi absolut di Jawa Tengah.
Polemik Pilkada via DPRD: Demokrasi di Persimpangan
Di Senayan, perdebatan mengenai revisi mekanisme Pilkada kembali memanas. Wacana untuk mengembalikan pemilihan kepala daerah ke tangan DPRD (pemilihan tidak langsung) terus didorong oleh sejumlah elite dengan alasan efisiensi anggaran dan pengurangan korupsi akibat politik berbiaya tinggi.
Namun, gelombang penolakan dari masyarakat sipil dan akademisi tak kalah kuat. Kritikus menilai langkah ini sebagai kemunduran demokrasi atau setback yang akan menjauhkan rakyat dari pemimpinnya.
“Memindahkan kotak suara dari rakyat ke ruang-ruang rapat DPRD adalah bentuk pengkhianatan terhadap semangat reformasi,” tulis salah satu kolom opini yang trending hari ini.
Diplomasi Internasional: RI Incar Kursi Presiden HAM PBB
Di level global, posisi politik Indonesia kian diperhitungkan. Kabar terbaru menyebutkan Indonesia masuk dalam jajaran kuat calon Presiden Dewan HAM PBB 2026. Sejumlah legislator di Komisi I DPR RI memandang ini sebagai momentum emas bagi Jakarta untuk mengklarifikasi berbagai isu miring terkait HAM dan situasi di Papua, sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam membela kemanusiaan, termasuk isu Palestina.
Argumen Kita: Antara Efisiensi dan Hak Rakyat
ArgumenRakyat.com menilai bahwa wacana Pilkada via DPRD adalah “pil pahit” yang sulit ditelan jika tanpa jaminan transparansi di level legislatif. Jika alasan utamanya adalah biaya mahal, maka yang seharusnya dibenahi adalah sistem pendanaan partai dan penegakan hukum terhadap money politics, bukan justru merampas hak suara rakyat.
Pemerintah dan DPR harus berhati-hati; kebijakan yang dipaksakan di akhir tahun seringkali menjadi beban politik yang meledak di tahun baru.(**)







![Penetapan Indonesia sebagai Dewan HAM PBB 2026. [Foto: kemlu.go.id]](https://argumenrakyat.com/wp-content/uploads/2026/01/IMG_20260110_160318-e1768216728409-360x200.jpg)

