JAKARTA, ArgumenRakyat.com — Kebiasaan berpikir negatif yang berulang dan sulit dihentikan diketahui berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif, menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Alzheimer’s & Dementia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Penelitian tersebut meneliti kebiasaan yang disebut repetitive negative thinking (RNT), yaitu pola pikiran negatif yang muncul berkali-kali dan sulit dikendalikan. Dua bentuk yang paling banyak dibahas adalah worry, kecenderungan mengkhawatirkan hal yang belum terjadi, dan rumination, kebiasaan mengulang kejadian negatif yang sudah berlalu.
Temuan penelitian menunjukkan orang dengan tingkat RNT lebih tinggi mengalami penurunan kemampuan kognitif yang lebih cepat selama masa pengamatan. Mereka juga memiliki lebih banyak deposit dua protein yang berkaitan dengan Alzheimer, yakni amyloid dan tau.
Amyloid dan Tau Jadi Penanda Biologis
Amyloid dan tau merupakan protein yang dapat menjadi penanda perubahan biologis pada penyakit Alzheimer. Pada kondisi tersebut, amyloid dapat menumpuk dan membentuk plak, sementara tau membentuk kekusutan di dalam sel saraf.
Pengamatan berlangsung hingga 48 bulan atau sekitar empat tahun. Artinya, peneliti tidak hanya melihat kondisi peserta dalam satu kali pemeriksaan, tetapi mengikuti perubahan kemampuan berpikir dan mengingat mereka dari waktu ke waktu.
Temuan itu sejalan dengan studi lain yang dipublikasikan di BMC Psychiatry pada 2025, yang juga menemukan hubungan antara tingkat RNT dan penurunan fungsi kognitif pada orang lanjut usia. Meski demikian, penelitian tersebut belum membuktikan bahwa pola pikir negatif secara langsung menyebabkan penurunan kemampuan otak atau Alzheimer.
Sesekali Cemas Itu Wajar
Yang menjadi perhatian dalam penelitian bukanlah orang yang sesekali merasa pesimis, kesal, atau memikirkan hal buruk. Rasa khawatir, kecewa, sedih, atau mengingat pengalaman buruk merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Persoalannya muncul ketika pikiran negatif berubah menjadi pola yang berulang, menetap, dan sulit dikendalikan. Karena itu, mengenali kebiasaan berpikir sendiri menjadi langkah awal yang berguna, misalnya dengan memberi jeda sebelum mengulang kembali suatu kekhawatiran, mencatat pemicunya, atau mengalihkan perhatian pada aktivitas yang menuntut fokus. Jika pola tersebut sudah mengganggu tidur, pekerjaan, maupun hubungan sosial, bantuan tenaga profesional kesehatan jiwa tetap menjadi pilihan yang bijak.









