JAKARTA, ArgumenRakyat.com — Anak yang mendadak menolak berangkat sekolah kerap membuat orang tua bingung, padahal penolakan itu bisa menjadi tanda kecemasan atau masalah yang belum terungkap di lingkungan sekolah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Penolakan sekolah tidak selalu disampaikan lewat kalimat tegas. Anak dapat menunjukkan keluhan fisik seperti sakit kepala, sakit perut, mual, atau lemas terutama menjelang waktu berangkat. Orang tua sebaiknya lebih dulu memastikan tidak ada persoalan kesehatan dengan berkonsultasi kepada dokter anak.
Jika kondisi medis tidak ditemukan, keluhan tersebut bisa berkaitan dengan kecemasan yang muncul saat anak harus pergi ke sekolah. Langkah pertama yang disarankan adalah mengajak anak berbicara dengan tenang, tanpa memarahi, mengancam, atau langsung menyebutnya malas.
Cari Tahu Akar Persoalannya
Orang tua perlu menelusuri apakah ada kesulitan mengikuti pelajaran, konflik dengan teman, atau perundungan. Komunikasi dengan guru membantu memetakan situasi anak di sekolah. Ketika anak mulai bercerita, dengarkan dengan serius dan tanpa menghakimi agar ia terbiasa terbuka.
Anak yang sebelumnya lama tidak masuk karena sakit atau libur panjang memang membutuhkan waktu untuk kembali ke rutinitas. Namun, membiarkan anak terlalu lama di rumah justru membuatnya semakin sulit kembali. Dukungan untuk kembali ke sekolah sebaiknya diberikan bertahap.
Kapan Perlu Bantuan Profesional
Sesekali menolak sekolah belum tentu menandakan masalah serius. Orang tua perlu lebih waspada jika anak menghindari sekolah berhari-hari, berminggu-minggu, atau berbulan-bulan, sering terlambat, pulang lebih awal, atau terus meminta dijemput karena tidak nyaman berada di sekolah.
Jika penolakan semakin berat, orang tua dapat meminta bantuan psikolog anak atau tenaga profesional. Penolakan sekolah bukan diagnosis tersendiri, tetapi dapat berkaitan dengan kecemasan perpisahan, kecemasan sosial, depresi, atau gangguan panik. Pendampingan profesional membantu menemukan akar persoalan sekaligus menyusun penanganan yang tepat.









