JAKARTA, ArgumenRakyat.com – Dunia konten digital memasuki babak baru di penghujung tahun 2025. Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini telah melampaui batas teks dan gambar statis, beralih sepenuhnya ke era Generative Video. Salah satu pemain utama yang mendominasi tren ini adalah model Veo, AI generatif tercanggih yang mampu mengubah instruksi teks sederhana menjadi video sinematik berkualitas tinggi lengkap dengan audio alami.
Kehadiran teknologi ini memicu pergeseran besar dalam cara kreator konten, agensi periklanan, hingga pembuat film amatir memproduksi visual profesional tanpa memerlukan anggaran produksi yang besar.
Apa itu Veo dan Mengapa Menjadi Dominan?
Veo adalah model AI video mutakhir yang dikembangkan dengan kemampuan memahami instruksi bahasa yang kompleks (sinematografi). Berbeda dengan generasi AI video sebelumnya yang sering menghasilkan visual “patah-patah”, Veo menawarkan keunggulan signifikan:
-
Resolusi Tinggi & Durasi Lebih Panjang: Mampu menghasilkan klip video berkualitas 4K dengan durasi yang lebih stabil untuk kebutuhan storytelling.
-
Kontrol Sinematografi: Pengguna dapat memberikan instruksi spesifik seperti “pengambilan gambar aerial“, “pencahayaan cinematic“, atau “gaya visual film tahun 90-an”.
-
Audio Generatif: Veo tidak hanya menghasilkan visual, tetapi juga suara latar (ambience) dan musik yang sinkron dengan gerakan dalam video.
Dampak pada Industri Kreatif di Indonesia
Di Indonesia, pemanfaatan Generative Video mulai menjamur di kalangan UMKM dan agensi digital. Dengan teknologi ini, pembuatan iklan produk yang sebelumnya membutuhkan tim produksi besar dan biaya puluhan juta rupiah, kini bisa disimulasikan dalam hitungan menit menggunakan perintah teks (prompting).
“Ini adalah demokratisasi kreativitas. Kini, siapapun yang memiliki ide bagus namun terbatas biaya produksi dapat memvisualisasikan mimpinya menjadi video berkualitas layar lebar,” ujar seorang pakar strategi digital dalam diskusi teknologi di Jakarta (25/12).
Isu Etika dan Keamanan Konten
Meski menawarkan efisiensi luar biasa, dominasi model seperti Veo juga memunculkan kekhawatiran terkait orisinalitas dan hak cipta. Pemerintah dan perusahaan pengembang AI kini tengah mengintegrasikan fitur SynthID atau watermark digital yang tidak kasat mata untuk menandai bahwa sebuah video dihasilkan oleh AI, guna mencegah penyebaran disinformasi.
Kemendikdasmen juga dikabarkan mulai melirik potensi teknologi ini untuk dikolaborasikan dalam materi pelajaran digital, guna mendukung metode Deep Learning melalui visualisasi materi ajar yang lebih interaktif dan menarik bagi siswa.
Masa Depan Video AI
Para analis memprediksi bahwa pada tahun 2026, integrasi Generative Video akan semakin dalam ke media sosial. Fitur pembuatan video instan berbasis AI diprediksi akan menjadi standar baru di berbagai platform global, menjadikan batas antara realitas dan kreasi digital semakin tipis.







![Penetapan Indonesia sebagai Dewan HAM PBB 2026. [Foto: kemlu.go.id]](https://argumenrakyat.com/wp-content/uploads/2026/01/IMG_20260110_160318-e1768216728409-360x200.jpg)

