JAKARTA, ArgumenRakyat.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tengah menggencarkan sosialisasi pendekatan Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) sebagai solusi untuk meningkatkan kualitas output pendidikan di Indonesia. Langkah ini diambil guna menjawab tantangan rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa yang sering kali terjebak dalam pola belajar menghafal demi ujian.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) menegaskan bahwa Deep Learning bukanlah kurikulum baru yang menggantikan Kurikulum Merdeka, melainkan sebuah penguatan metode penyampaian materi di ruang kelas.
Tiga Pilar Utama Deep Learning
Metode ini dirancang untuk memastikan siswa tidak hanya sekadar “tahu”, tetapi “memahami” secara kontekstual. Terdapat tiga pilar utama yang diperkenalkan dalam pendekatan ini:
-
Mindful Learning: Melibatkan siswa secara penuh dalam proses belajar dengan memperhatikan keunikan setiap anak.
-
Meaningful Learning: Mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata agar siswa merasakan manfaat langsung dari apa yang dipelajari.
-
Joyful Learning: Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan tanpa tekanan, sehingga rasa ingin tahu siswa tumbuh secara alami.
“Tujuan kita adalah agar siswa memiliki ketahanan mental dan kemampuan analisis yang tajam. Kita ingin mengurangi beban administratif guru agar mereka bisa lebih fokus pada proses dialogis dengan murid,” ujar Menteri saat meninjau pilot project di Jakarta, Desember 2025.
Pilot Project di 65.000 Sekolah
Hingga akhir tahun 2025, pemerintah mencatat telah ada sekitar 65.000 sekolah di seluruh Indonesia yang menjadi proyek percontohan (pilot project) implementasi Deep Learning. Sekolah-sekolah ini mendapatkan pelatihan intensif mengenai teknik bertanya tingkat tinggi (High Order Thinking Skills) dan manajemen kelas berbasis proyek.
Pemerintah menargetkan implementasi menyeluruh di seluruh satuan pendidikan pada tahun 2029. Strategi ini dipandang sebagai langkah konkret dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045, di mana sumber daya manusia dituntut memiliki kreativitas dan kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap teknologi dan AI.
Tanggapan Praktisi Pendidikan
Meski disambut positif, para praktisi pendidikan mengingatkan pentingnya konsistensi kebijakan. Pengamat pendidikan menekankan bahwa keberhasilan Deep Learning sangat bergantung pada kualitas kompetensi guru.
“Metode ini sangat ideal, namun tantangan terbesarnya adalah mengubah mindset guru yang sudah puluhan tahun terbiasa dengan metode ceramah satu arah. Pelatihan guru harus dilakukan secara masif dan berkelanjutan,” ungkapnya kepada portal ArgumenRakyat.com.
Seiring dengan pengumuman hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 baru-baru ini, Deep Learning diharapkan menjadi jawaban atas evaluasi nilai akademik siswa yang masih perlu ditingkatkan di berbagai wilayah.







![Penetapan Indonesia sebagai Dewan HAM PBB 2026. [Foto: kemlu.go.id]](https://argumenrakyat.com/wp-content/uploads/2026/01/IMG_20260110_160318-e1768216728409-360x200.jpg)

