JAKARTA, ArgumenRakyat.com – Ancaman radikalisasi kini tak lagi sekadar melalui forum gelap atau aplikasi pesan tertutup, melainkan sudah merambah ke ruang bermain anak-anak. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) secara resmi mengeluarkan peringatan keras terkait indikasi penyebaran paham radikal melalui platform game online populer, Roblox.
Langkah ini menjadi sorotan utama di penghujung tahun 2025, seiring dengan meningkatnya aktivitas digital generasi muda selama libur sekolah.
Metode Baru: Doktrinasi di Balik “Avatar”
Kepala BNPT mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025, ditemukan ribuan konten digital yang memuat unsur radikalisme yang menyasar pengguna usia dini. Dalam platform seperti Roblox, para pelaku diduga menciptakan skenario permainan atau ruang obrolan yang secara halus menyisipkan narasi kekerasan dan intoleransi.
-
Modus Operandi: Memanfaatkan fitur user-generated content (konten buatan pengguna) untuk membangun simulasi yang memuliakan aksi teror atau memecah belah persatuan.
-
Target: Anak-anak usia sekolah yang belum memiliki filter kritis terhadap informasi yang mereka terima di dunia maya.
Kebijakan Pembatasan Usia 2026
Menanggapi temuan ini, pemerintah melalui kolaborasi lintas kementerian berencana memberlakukan aturan ketat mulai 1 Januari 2026. Kebijakan ini akan memperketat pengawasan dan akses media sosial serta platform gim bagi anak usia 13 hingga 16 tahun.
“Kita tidak bisa membiarkan ruang digital menjadi ‘hutan rimba’ bagi anak-anak kita. Pengawasan bukan berarti mengekang kreativitas, melainkan melindungi mentalitas generasi mendatang,” ujar juru bicara BNPT dalam keterangan persnya hari ini.
Argumen Kita: Tanggung Jawab Kolektif di Balik Layar
Kasus pengawasan terhadap Roblox ini menjadi alarm keras bagi para orang tua dan pendidik. Di era digital, ancaman ideologi ekstrem tidak lagi datang lewat selebaran, melainkan lewat layar gawai di dalam kamar yang terkunci.
ArgumenRakyat.com memandang bahwa pemblokiran atau pengawasan teknis oleh BNPT tidak akan pernah cukup. Dibutuhkan literasi digital keluarga yang kuat. Orang tua harus menyadari bahwa membiarkan anak bermain gim tanpa pengawasan sama saja dengan membiarkan mereka berbicara dengan orang asing di tempat gelap.
Poin Penting untuk Orang Tua:
-
Cek Aktivitas: Selalu periksa jenis permainan dan lingkungan pertemanan anak di dalam gim.
-
Aktifkan Parent Control: Gunakan fitur pembatasan akses yang disediakan oleh platform.
-
Dialog Terbuka: Ajarkan anak untuk segera melapor jika menemukan konten atau ajakan yang mencurigakan atau mengandung kebencian.







![Penetapan Indonesia sebagai Dewan HAM PBB 2026. [Foto: kemlu.go.id]](https://argumenrakyat.com/wp-content/uploads/2026/01/IMG_20260110_160318-e1768216728409-360x200.jpg)

