Jakarta, ArgumenRakyat.com — Sudah rutin berolahraga dan mengatur pola makan, tetapi ukuran paha atau betis tak juga berubah? Bisa jadi penyebabnya bukan lemak biasa, melainkan lipedema.
Lipedema adalah kondisi kronis yang ditandai penumpukan jaringan lemak secara tidak normal, terutama di bokong, paha, tungkai, dan kadang lengan. Kondisi ini lebih banyak dialami perempuan dan kerap dikaitkan dengan perubahan hormonal seperti pubertas, kehamilan, atau menopause.
Karena bentuk tubuhnya sekilas menyerupai kelebihan berat badan, lipedema sering tidak dikenali sejak awal. Faktor genetik juga diduga berperan karena kondisi ini bisa ditemukan pada lebih dari satu anggota keluarga.
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →Tiga Ciri Khas Lipedema
Ciri pertama, penumpukan lemak terjadi secara relatif simetris pada kedua sisi tubuh, umumnya bagian bawah tubuh tampak jauh lebih besar dibanding bagian atas. Ciri kedua, jaringan lemak itu sulit berkurang meski berat badan turun lewat pola makan sehat dan aktivitas fisik.
Ciri ketiga, jaringan yang terdampak bisa terasa nyeri atau sensitif saat disentuh, mudah memar tanpa benturan jelas, serta terasa berat menjelang akhir hari. Pada sebagian orang, tungkai membesar sementara telapak kaki relatif normal sehingga terlihat batas yang cukup tegas.
Jangan Simpulkan dari Foto
Kemiripan bentuk tubuh membuat lipedema kerap disalahartikan sebagai obesitas, padahal keduanya kondisi berbeda. Seseorang dengan lipedema tetap bisa mengalami kelebihan berat badan, dan pembengkakan pada tungkai juga bisa disebabkan gangguan sistem limfatik atau masalah pembuluh darah.
Karena itu, diagnosis sebaiknya tidak dilakukan hanya berdasar bentuk tubuh atau perbandingan foto di internet. Ketika keluhan nyeri, mudah memar, atau pembesaran tungkai mulai mengganggu aktivitas harian, sebaiknya periksakan diri ke tenaga kesehatan agar penyebabnya dipastikan dan penanganan bisa dilakukan lebih dini.









