JAKARTA, ArgumenRakyat.com — Indonesia tengah berada dalam periode kritis bencana hidrometeorologi pada akhir Januari 2026. Cuaca ekstrem yang dipicu oleh dinamika atmosfer global mengakibatkan meluasnya titik banjir di ibu kota serta tragedi memilukan di wilayah Bandung Barat. Hingga Minggu (25/1/2026), otoritas terkait terus berupaya melakukan mitigasi dan evakuasi di tengah ancaman hujan lebat yang diprediksi masih akan berlanjut.
Jakarta Siaga: 78 RT Terendam, Fokus Pompa di Rawa Buaya
Berdasarkan data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, sebaran banjir di wilayah ibu kota dilaporkan semakin meluas. Tercatat sebanyak 78 Rukun Tetangga (RT) dan 7 ruas jalan utama masih terendam air dengan ketinggian bervariasi. Wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Barat menjadi area terdampak paling parah akibat akumulasi curah hujan tinggi yang terjadi sejak beberapa hari terakhir.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, telah turun langsung meninjau kondisi warga terdampak, khususnya di kawasan Rawa Buaya. Guna mempercepat penurunan debit air, Gubernur telah menginstruksikan penambahan unit pompa di titik-titik krusial tersebut guna meminimalisir dampak kerugian warga. Pemprov DKI Jakarta terus menyiagakan ribuan petugas “Pasukan Oranye” dan tim reaksi cepat untuk memastikan saluran drainase berfungsi optimal di tengah cuaca ekstrem.
Tragedi Bandung Barat: 7 Meninggal, Ratusan Hilang Tertimbun Lumpur
Situasi lebih memprihatinkan dilaporkan terjadi di wilayah Bandung Barat. Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang pemukiman warga dikonfirmasi telah merenggut sedikitnya 7 nyawa. Selain korban jiwa, tim SAR gabungan saat ini tengah berfokus melakukan pencarian intensif terhadap 114 orang yang dinyatakan hilang pasca-kejadian.
Proses evakuasi di lokasi bencana menghadapi kendala teknis yang sangat berat. Timbunan lumpur setebal 5 meter serta faktor cuaca hujan yang terus mengguyur menyulitkan personel SAR dalam melakukan penyisiran. Sebagai langkah darurat, pemerintah telah mulai melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sekitar wilayah Jawa Barat guna mengurangi intensitas hujan agar proses evakuasi korban hilang dapat berjalan lebih efektif.
Analisis Atmosfer: Dampak Monsun Asia dan Siklon Luana
Pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa rangkaian bencana ini dipicu oleh penguatan Monsun Asia serta pengaruh tidak langsung dari Siklon Tropis Luana di selatan Nusa Tenggara Timur. Seruakan massa udara dingin dari Asia melintasi ekuator dan memicu penumpukan massa udara di wilayah Indonesia bagian selatan, yang berakibat pada ketidakstabilan atmosfer yang tinggi.
BMKG menetapkan periode 25–28 Januari 2026 sebagai fase angin kencang dan hujan intensitas tinggi yang dominan di wilayah Jabodetabek. Dampak dari gradien tekanan udara ini dirasakan dalam bentuk cuaca ekstrem yang memicu banjir bandang dan tanah longsor di wilayah dengan topografi curam.
Perspektif ArgumenRakyat.com
ArgumenRakyat.com memandang bahwa rentetan bencana di awal tahun 2026 ini merupakan alarm keras bagi penguatan sistem mitigasi bencana nasional yang berbasis data. Keberhasilan digitalisasi birokrasi dan pertumbuhan investasi harus dibarengi dengan jaminan keamanan bagi warga negara di daerah rawan bencana. Kami mendorong pemerintah untuk memastikan distribusi bantuan bagi para pengungsi di Bandung Barat dan Jakarta berjalan transparan, sembari mempercepat audit tata ruang di kawasan perbukitan guna mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan.(**)
Sumber Referensi:
-
Laporan Situasi Bencana BPBD DKI Jakarta & BNPB (Januari 2026).
-
Analisis Dinamika Atmosfer BMKG: Dampak Siklon Tropis Luana dan Monsun Asia.
-
Laporan Investigasi Evakuasi Longsor Bandung Barat (Liputan6 & Kompas.com).
-
Data Operasi SAR Nasional di Gunung Bulusaraung.









![Penetapan Indonesia sebagai Dewan HAM PBB 2026. [Foto: kemlu.go.id]](https://argumenrakyat.com/wp-content/uploads/2026/01/IMG_20260110_160318-e1768216728409-360x200.jpg)