JAKARTA, ArgumenRakyat.com – Awal tahun 2026 yang seharusnya menjadi masa tanam harapan justru berubah menjadi duka bagi para petani. Siklon Tropis Hayley yang berputar di Samudra Hindia telah memicu curah hujan ekstrem, menyebabkan banjir bandang yang merendam puluhan ribu hektare lahan persawahan di sepanjang jalur Pantura Jawa dan sebagian wilayah Sumatera.
Laporan terbaru dari Kementerian Pertanian mencatat bahwa wilayah terdampak terus meluas, meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya gagal panen massal (puso) di kuartal pertama tahun ini.
Pemetaan Wilayah Terdampak
Data satelit cuaca menunjukkan bahwa pergerakan Siklon Hayley menciptakan sabuk hujan lebat yang tidak terputus di wilayah pesisir. Banjir tidak hanya merusak tanaman padi yang baru berumur 2-4 minggu, tetapi juga merusak infrastruktur irigasi desa.
-
Jawa Tengah & Jawa Barat: Wilayah Indramayu, Cirebon, hingga Brebes menjadi titik terparah dengan ketinggian air mencapai 50–100 cm di area persawahan.
-
Sumatera Bagian Selatan: Luapan sungai di Jambi dan Sumatera Selatan telah menenggelamkan ribuan hektare lahan pasang surut.
Dilema Petani: Antara Modal Ludes dan Ancaman Puso
Kondisi ini menempatkan petani pada posisi terjepit. Tanaman padi yang terendam air lebih dari tiga hari dipastikan akan membusuk dan mati.
“Kami baru saja selesai menanam pekan lalu dengan modal pinjaman. Jika air tidak surut dalam dua hari, bibit ini akan habis semua,” keluh seorang petani di Indramayu.
Analisis ArgumenRakyat.com:
-
Potensi Inflasi Pangan: Jika puluhan ribu hektare ini benar-benar gagal panen, pasokan beras nasional untuk bulan Maret-April akan terganggu secara signifikan. Pemerintah harus bersiap dengan skema impor cadangan atau redistribusi stok Bulog agar harga di pasar tidak melonjak drastis.
-
Urgensi Asuransi Pertanian: Kejadian ini kembali membuktikan bahwa program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Sayangnya, serapan asuransi di tingkat petani kecil masih tergolong rendah.
Langkah Darurat Pemerintah
Menteri Pertanian dalam keterangan persnya hari ini menginstruksikan jajaran dinas terkait untuk segera melakukan:
-
Pompanisasi: Mengerahkan pompa air kapasitas besar untuk menyedot genangan di lahan produktif.
-
Bantuan Bibit: Menyiapkan cadangan bibit unggul bagi petani yang lahannya harus tanam ulang (re-planting).
-
Audit Irigasi: Memperbaiki tanggul-tanggul yang jebol akibat tekanan air yang ekstrem dari hulu.
Argumen Kita: Bukan Sekadar Faktor Alam
Kita tidak bisa terus-menerus menyalahkan alam setiap kali banjir datang. Siklon Hayley mungkin faktor pemicu, namun kerusakan lingkungan di wilayah hulu dan buruknya tata kelola drainase di wilayah hilir adalah penyebab sistemik yang harus dibenahi.
Pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi Danantara diharapkan mulai melirik investasi pada infrastruktur mitigasi bencana pertanian jangka panjang, bukan hanya proyek fisik di perkotaan.(**)







![Penetapan Indonesia sebagai Dewan HAM PBB 2026. [Foto: kemlu.go.id]](https://argumenrakyat.com/wp-content/uploads/2026/01/IMG_20260110_160318-e1768216728409-360x200.jpg)

