MERAUKE, ArgumenRakyat.com — Produk pangan siap saji warga Kawasan Transmigrasi Muting, Merauke, Papua Selatan, kini dipasarkan lebih luas setelah Tim Ekspedisi Patriot Universitas Gadjah Mada mengajari mereka memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk promosi dan pemasaran.
Kue kering, keripik singkong, dan keripik rambak sudah lama diproduksi warga di kawasan itu. Persoalannya bukan soal rasa, melainkan cara memperkenalkan produk agar dikenal pembeli di luar kampung. Pelatihan yang digelar pekan ini menyasar titik itu.
Dari Kemasan sampai Materi Promosi
Pelatihan dirancang dalam tiga materi utama. Sesi pertama mendorong warga membangun identitas produk melalui kemasan yang menarik dan berkarakter. Sesi kedua membekali peserta standar teknis pengemasan, mencakup aspek keamanan, penyimpanan, dan penentuan tanggal kedaluwarsa. Sesi terakhir berisi praktik langsung menggunakan AI untuk mencari ide promosi hingga membuat materi visual pemasaran.
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →Salah satu warga penerima manfaat, Dewi, mengaku mendapat wawasan baru yang mengubah cara pandangnya mengelola usaha. “Selama ini kami lebih banyak berfokus pada membuat produknya. Dari workshop ini kami mendapatkan pemahaman bahwa kemasan dan cara memperkenalkan produk juga sangat penting,” tuturnya. “Kami juga jadi tahu bahwa AI bisa dimanfaatkan untuk membantu membuat promosi,” sambungnya.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot bidang Digitalisasi, Dr Faiz Zamzami, menilai produk buatan masyarakat sesungguhnya berpotensi besar. Tantangan utamanya terletak pada bagaimana produk dikembangkan dan dikemas agar berdaya saing. “Pengemasan, branding, dan pemanfaatan teknologi digital menjadi bagian penting yang perlu diperkenalkan kepada masyarakat,” ujar Faiz.
Masuk ke Ekosistem Digital
Tidak berhenti pada pelatihan, produk warga juga difasilitasi masuk ke ekosistem digital melalui platform Digipangan.id. Lewat platform itu, produk olahan dari Muting dapat lebih mudah ditemukan calon konsumen dan membuka peluang pemasaran yang lebih luas.
Kisah warga Muting mengingatkan satu hal yang sering terlewat: produk yang enak belum tentu cepat dikenal kalau tidak pernah diceritakan. Dulu pedagang hanya menunggu pembeli lewat di depan kios. Kini cerita tentang cara membuat keripik, bahan pilihan, sampai siapa yang mengerjakannya bisa disaksikan siapa saja lewat layar ponsel. Dari cerita itulah kepercayaan tumbuh, dan pesanan menyusul tanpa harus menunggu musim ramai.
Bagi usaha kecil, konten video adalah aset jangka panjang, bukan sekadar unggahan sesaat. Video pendek yang dirilis rutin membantu calon pembeli mengenali produk, sementara penataan judul, deskripsi, dan kata kunci membuatnya mudah ditemukan di mesin pencari maupun media sosial. Inilah inti digital marketing hari ini: strategi konten yang konsisten, optimasi mesin pencari yang dikerjakan bertahap, dan pemakaian teknologi sebagai alat bantu, bukan pengganti cerita asli pemilik usaha.
Dimensia Creative mendampingi pelaku usaha menyiapkan aset digital tersebut, mulai dari produksi konten video, live streaming kegiatan, hingga penyusunan strategi digital marketing yang terukur. Ceritakan rencana usaha Anda lewat WhatsApp 0812-6349-2788 atau lihat ragam layanannya di dimensiacreative.com.
Selain konten pendek, membangun nama perlu ruang bercerita yang lebih lapang. Lewat Podcast Kusieh Bendi, pemilik usaha dapat memaparkan perjalanan bisnisnya, tokoh daerah menyampaikan gagasan, dan narasumber memperkuat citra yang diingat publik. Panduan kerja samanya tersedia di dimensiacreative.com/proposal.
Bagi usaha kecil di daerah, pengalaman Muting menunjukkan bahwa promosi tidak lagi menuntut peralatan mahal. Yang dibutuhkan adalah kemauan menceritakan produk secara rutin dan kemampuan memakai teknologi sederhana, dari penyuntingan foto di ponsel sampai penyusunan kalimat promosi. Kombinasi itu membuat produk lokal dapat bersaing di pasar yang lebih luas tanpa meninggalkan kampung halaman.









