50 KOTA, ARGUMENRAKYAT.COM – Memasuki penghujung tahun 2025, destinasi wisata ikonik Lembah Harau di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, kembali menjadi pusat perhatian nasional. Bukan sekadar destinasi “healing” biasa, kawasan yang sering dijuluki Yosemite of Indonesia ini kini bertransformasi menjadi magnet baru bagi dunia sport tourism tanah air.
Setelah sukses menjadi tuan rumah Rock Climbing Festival 2025 yang dihadiri tokoh nasional seperti Yenny Wahid dan Rocky Gerung beberapa waktu lalu, tren kunjungan ke Harau mengalami pergeseran menarik. Jika sebelumnya wisatawan hanya mengejar swafoto di depan air terjun atau kawasan tematik Eropa, kini minat terhadap wisata minat khusus seperti trekking dan panjat tebing meningkat drastis.
Geliat Ekonomi dan Sorotan Infrastruktur
Pantauan di lapangan menunjukkan arus kendaraan menuju Lembah Harau mulai padat sejak memasuki pekan terakhir Desember. Wisatawan yang didominasi oleh plat kendaraan BM (Riau) dan BK (Sumut) terlihat memenuhi titik-titik parkir utama di sekitar Air Terjun Aka Barayun dan Sarasah Bunta.
“Harau tetap menjadi pilihan utama bagi kami warga Riau. Aksesnya yang semakin baik dan udaranya yang tidak ada di Pekanbaru membuat kami selalu kembali ke sini setiap akhir tahun,” ujar Zikri, salah satu pengunjung asal Pekanbaru kepada tim Argumen Rakyat.
Namun, meningkatnya kunjungan ini juga membawa “PR” besar bagi pemerintah daerah. Isu mengenai pengelolaan parkir yang seringkali membludak dan kebutuhan akan pemeliharaan fasilitas umum agar tetap orisinal sesuai statusnya sebagai kawasan geopark terus menjadi bahan diskusi hangat di media sosial.
Menjaga ‘Rahim Alam’ dari Ancaman Karhutla
Di balik euforia libur akhir tahun, isu pelestarian alam tetap menjadi sorotan utama. Pasca rentetan kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang sempat melanda perbukitan Harau pada pertengahan tahun 2025, kini para pegiat lingkungan dan pemerintah setempat memperketat pengawasan.
Ketua PP FPTI, Yenny Wahid, sebelumnya sempat menegaskan bahwa Tebing Harau bukan sekadar objek wisata, melainkan “Rahim Alam” yang harus dijaga. Hal ini senada dengan upaya Pemkab Lima Puluh Kota yang kini lebih selektif dalam memberikan izin pembangunan di kawasan konservasi agar tidak merusak dinding-dinding batu purba yang menjadi daya tarik utama.
Tips Wisata Harau Akhir Tahun
Bagi Anda yang berencana mengunjungi Lembah Harau dalam waktu dekat, berikut beberapa rekomendasi agar perjalanan lebih nyaman:
Datang Lebih Pagi: Untuk menghindari kemacetan di gerbang retribusi, disarankan tiba sebelum pukul 09.00 WIB.
Siapkan Alas Kaki yang Nyaman: Terutama bagi Anda yang ingin mencoba jalur trekking menuju puncak bukit untuk melihat view lembah dari ketinggian.
Patuhi Aturan Kebersihan: Mengingat statusnya sebagai kawasan geopark, dilarang keras membuang sampah sembarangan atau mencorat-coret dinding batu (vandalime).
Dengan segala dinamikanya, Lembah Harau tetap membuktikan diri sebagai aset pariwisata Sumatera Barat yang tak lekang oleh waktu. Kini tinggal bagaimana kolaborasi antara masyarakat, pengunjung, dan pemerintah dalam menjaga keindahan cadas ini tetap lestari hingga generasi mendatang.







![Penetapan Indonesia sebagai Dewan HAM PBB 2026. [Foto: kemlu.go.id]](https://argumenrakyat.com/wp-content/uploads/2026/01/IMG_20260110_160318-e1768216728409-360x200.jpg)

