ArgumenRakyat.com — Jakarta, Media sosial kini menjadi sumber utama informasi bagi banyak orang. Namun, tanpa disadari, informasi yang muncul di layar ponsel bukan sepenuhnya hasil pilihan kita sendiri. Ada sistem otomatis—disebut algoritma—yang menentukan berita, video, dan opini apa yang paling sering kita lihat.
Algoritma bekerja dengan membaca kebiasaan pengguna. Konten yang sering diklik, ditonton lama, atau memicu emosi kuat seperti marah dan takut akan lebih sering ditampilkan. Akibatnya, konten sensasional dan kontroversial lebih mudah viral dibandingkan informasi yang tenang, lengkap, dan berbasis fakta.
Kondisi ini berdampak pada cara masyarakat berpikir dan menilai suatu isu. Banyak orang hanya menerima informasi yang sejalan dengan pandangan mereka, sementara pendapat berbeda jarang muncul. Situasi ini membuat perbedaan pandangan di masyarakat semakin tajam dan sulit dipertemukan.
Masalah menjadi lebih serius ketika menyangkut isu politik dan kebijakan publik. Berita palsu dan informasi menyesatkan bisa menyebar sangat cepat karena dianggap “menarik” oleh algoritma. Sementara itu, klarifikasi dan informasi resmi sering kalah cepat dan kalah ramai.
Pemerintah di berbagai negara mulai menaruh perhatian pada pengaruh algoritma. Desakan agar platform digital lebih terbuka tentang cara kerja sistem rekomendasi semakin menguat, karena ruang publik digital kini dinilai terlalu dikuasai oleh kepentingan bisnis perusahaan teknologi.
Di sisi lain, perusahaan platform sering menyatakan bahwa algoritma hanya mengikuti perilaku pengguna. Namun, banyak pengamat menilai alasan ini tidak sepenuhnya tepat, karena sistem tersebut dirancang untuk mengejar keuntungan dari iklan dan waktu tayang pengguna.
Para ahli mengingatkan bahwa kemampuan masyarakat untuk berpikir kritis semakin diuji. Tanpa aturan yang jelas dan pengawasan yang kuat, publik berisiko terus digiring oleh arus informasi yang ditentukan oleh mesin, bukan oleh akal sehat.
Perspektif ArgumenRakyat.com
Algoritma kini bukan sekadar alat teknologi, tetapi telah menjadi kekuatan yang membentuk cara publik berpikir. Masalahnya bukan karena masyarakat kurang pintar, melainkan karena sistem digital sengaja mendorong konten yang memancing emosi demi keuntungan.
Selama perhatian manusia dijadikan barang dagangan, informasi yang paling heboh akan selalu menang atas informasi yang paling benar. Jika dibiarkan, ruang publik akan dipenuhi kebisingan, bukan pemahaman.
Pemerintah perlu bersikap lebih tegas. Aturan tentang transparansi algoritma dan tanggung jawab platform digital harus segera diperkuat. Tanpa itu, masyarakat akan terus berada dalam ruang digital yang tampak bebas, tetapi sebenarnya diarahkan secara diam-diam.
Di era digital, tantangan terbesar bukan sekadar memilih berita yang benar, melainkan menjaga agar nalar publik tidak sepenuhnya dikendalikan oleh algoritma.(**)









![Penetapan Indonesia sebagai Dewan HAM PBB 2026. [Foto: kemlu.go.id]](https://argumenrakyat.com/wp-content/uploads/2026/01/IMG_20260110_160318-e1768216728409-360x200.jpg)