JAKARTA, ArgumenRakyat.com — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah 32,14 poin atau 0,51 persen ke level 6.209,75 pada perdagangan Senin (28/9/2026), tertekan sentimen implementasi harga saham terendah Rp1 per lembar.
Pelemahan indeks sejalan dengan kebijakan BEI yang resmi menerapkan harga saham minimum dari semula Rp50 menjadi Rp1 per saham mulai Senin ini. Kebijakan tersebut diharapkan meningkatkan likuiditas dan menghadirkan price discovery atau penemuan harga yang lebih baik bagi emiten yang sahamnya lama bertahan di level Rp50 tanpa likuiditas memadai. Kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 juga turun 4,17 poin atau 0,67 persen ke posisi 616,94 pada pembukaan sesi pertama.
Area Support IHSG Jadi Perhatian
“Dalam jangka pendek, IHSG rentan menguji area support di kisaran 6.186-6.113, dengan support berikutnya di sekitar 6.029. Sebaliknya, untuk terjadi rebound, IHSG perlu kembali ke atas level 6.290 terlebih dahulu, kemudian menembus area 6.328-6.368,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, dalam kajiannya.
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →Dari sisi pergerakan saham, sebanyak 156 saham menguat, 231 saham melemah, dan 576 saham stagnan. Sektor teknologi mencatat penurunan terdalam 3,85 persen, disusul barang konsumen siklikal 1,77 persen, infrastruktur 0,55 persen, dan sektor keuangan 0,51 persen. Sebaliknya, sektor energi menguat 0,40 persen dan barang konsumen primer naik 0,15 persen.
Sentimen Kebijakan Fiskal
Sentimen tambahan datang dari pembaruan aturan pengelolaan surplus dan defisit kas pemerintah pusat melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 67 Tahun 2026 yang berlaku efektif 8 September 2026 dan menggantikan PMK Nomor 44 Tahun 2024. Aturan baru itu memperjelas bahwa surplus kas dapat dikelola untuk menghasilkan pendapatan negara, sehingga pelaku pasar mencermati dampaknya terhadap likuiditas dan instrumen keuangan.
Penerapan harga saham minimum Rp1 menjadi ujian pertama perdagangan pekan ini, terutama bagi emiten yang sahamnya lama berada di level Rp50. Pelaku pasar menantikan data ekonomi berikutnya untuk menilai arah indeks setelah pembukaan yang melemah, sementara BEI menegaskan kebijakan baru itu bertujuan memperbaiki mekanisme pasar.









