ARGUMENRAKYAT.COM — Industri memori komputer kembali bersiap memasuki lompatan besar. Setelah DDR5 mulai stabil di pasar global, generasi berikutnya, DDR6, justru memunculkan kekhawatiran baru: harga yang diprediksi sangat mahal di fase awal adopsi.
Alih-alih langsung menjadi solusi performa bagi semua pengguna, DDR6 berpotensi mengulang “drama mahal” yang dulu terjadi saat transisi DDR4 ke DDR5 — bahkan dengan skala yang lebih ekstrem.
Lompatan Teknologi yang Terlalu Jauh untuk Langsung Terjangkau
Standar DDR6 masih dalam tahap pengembangan oleh JEDEC, organisasi internasional yang menetapkan spesifikasi memori global.
DDR6 dirancang untuk menghadirkan bandwidth jauh lebih tinggi dibanding DDR5, dengan target kecepatan awal sekitar 8.800 MT/s hingga 17.600 MT/s, dan dalam roadmap jangka panjang bahkan bisa menembus dua kali lipatnya.
Sebagai perbandingan, DDR5 generasi awal “hanya” mulai dari kisaran 4.800 MT/s.
Artinya, DDR6 bukan sekadar upgrade — tetapi loncatan arsitektur yang menuntut:
-
desain motherboard baru,
-
kontroler memori generasi baru,
-
serta proses manufaktur yang jauh lebih kompleks.
Kompleksitas inilah yang menjadi akar dari potensi harga tinggi.
Bukan Hanya Cepat — Tapi Juga Lebih Rumit Diproduksi
DDR6 disebut akan menggunakan pendekatan channel yang lebih granular untuk meningkatkan efisiensi transfer data dan menekan bottleneck bandwidth.
Namun perubahan desain ini membuat:
-
validasi teknologi lebih lama,
-
biaya riset dan produksi melonjak,
-
serta yield produksi awal cenderung rendah.
Dalam industri semikonduktor, fase awal dengan yield rendah hampir selalu berujung pada harga jual tinggi untuk menutup biaya pengembangan.
Target Pasar Pertama Bukan Gamer, Tapi Data Center dan AI
Analis industri memperkirakan DDR6 akan lebih dulu menyasar:
-
server AI,
-
high-performance computing,
-
dan data center skala besar,
bukan langsung ke PC rumahan.
Hal ini wajar: sektor enterprise memiliki kebutuhan bandwidth ekstrem dan mampu membayar mahal lebih dulu, sebelum teknologi turun ke pasar konsumen.
Pola ini identik dengan perjalanan DDR5 yang awalnya mahal dan eksklusif sebelum akhirnya mulai terjangkau beberapa tahun kemudian.
Perkiraan Rilis: Masih Beberapa Tahun Lagi
Spesifikasi DDR6 diperkirakan baru akan difinalisasi sekitar pertengahan dekade ini, dengan implementasi komersial muncul setelahnya.
Artinya, adopsi massal di PC consumer kemungkinan masih membutuhkan waktu tambahan hingga ekosistem matang.
Dengan kata lain:
DDR6 akan hadir dulu sebagai teknologi elit — bukan solusi instan untuk pengguna biasa.
Mengapa Harga Awal Bisa Sangat Mahal?
Ada tiga faktor utama yang hampir pasti membuat DDR6 mahal saat rilis:
-
Biaya R&D Besar
Pengembangan standar baru dan fabrikasi node mutakhir membutuhkan investasi miliaran dolar. -
Ekosistem Belum Siap
CPU, chipset, dan motherboard harus didesain ulang total, bukan sekadar kompatibilitas minor. -
Volume Produksi Rendah di Awal
Produksi kecil = biaya per unit tinggi. Hukum klasik industri chip.
Pelajaran Lama yang Terulang
Jika melihat sejarah:
-
DDR4 sempat mahal saat awal rilis,
-
DDR5 bahkan lebih mahal karena krisis supply chain global,
-
DDR6 berpotensi lebih ekstrem karena lahir di era ledakan AI dan komputasi masif.
Alih-alih menjadi upgrade “wajib”, DDR6 kemungkinan akan menjadi teknologi premium yang baru terasa masuk akal setelah beberapa tahun stabil.
Kesimpulan Argumen Rakyat
DDR6 bukan sekadar generasi baru RAM.
Ia adalah simbol bagaimana industri bergerak lebih cepat daripada daya beli mayoritas pengguna.
Teknologinya menjanjikan revolusi performa.
Namun di fase awal, ia berpotensi menjadi barang mahal yang hanya relevan bagi industri besar — bukan rakyat pengguna PC sehari-hari.
Sejarah menunjukkan, setiap lompatan teknologi selalu membawa euforia… dan tagihan mahal di awal.
DDR6 tampaknya tidak akan berbeda.









![Penetapan Indonesia sebagai Dewan HAM PBB 2026. [Foto: kemlu.go.id]](https://argumenrakyat.com/wp-content/uploads/2026/01/IMG_20260110_160318-e1768216728409-360x200.jpg)