WASHINGTON DC – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, resmi memulai kunjungan kenegaraan strategisnya di Amerika Serikat, Senin (16/02/2026). Kunjungan ini menjadi sorotan dunia karena menandai langkah agresif pemerintahan baru dalam memperkuat posisi tawar Indonesia di hadapan raksasa ekonomi dunia.
Didampingi oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Presiden Prabowo dijadwalkan melakukan pertemuan empat mata dengan Presiden AS, Donald Trump. Kunjungan ini bukan sekadar seremoni, melainkan membawa misi ekonomi yang sangat spesifik dan krusial bagi hajat hidup orang banyak.
Target Pangkas Tarif 19 Persen
Salah satu poin paling krusial dalam kunjungan ini adalah negosiasi Agreement on Reciprocal Trade (ART). Pemerintah Indonesia menargetkan penurunan tarif impor dari Amerika Serikat yang saat ini berada di angka 32% menjadi kisaran 19%.
Penurunan tarif ini diharapkan dapat memangkas biaya produksi industri dalam negeri yang masih bergantung pada bahan baku dari AS, sekaligus membuka keran ekspor produk UMKM Indonesia ke pasar Amerika dengan harga yang lebih kompetitif.
Suara Kemanusiaan: Isu Gaza di Meja Donald Trump
Tidak hanya soal angka dan investasi, Presiden Prabowo juga membawa mandat moral sebagai anggota Board of Peace (Dewan Perdamaian). Di hadapan Donald Trump, Prabowo diprediksi akan menyuarakan posisi tegas Indonesia terkait stabilitas di Timur Tengah, khususnya penghentian kekerasan di Gaza.
“Indonesia tetap pada prinsip bebas aktif. Kita bersahabat dengan semua, tapi kita tidak bisa diam melihat ketidakadilan. Perdamaian dunia adalah prasyarat stabilitas ekonomi global,” ujar Presiden dalam keterangan persnya.
Penguatan Rantai Pasok dan Keamanan Indo-Pasifik
Di sektor pertahanan dan teknologi, kunjungan ini bertujuan untuk mengamankan rantai pasok industri strategis. Indonesia ingin memastikan bahwa kerja sama keamanan di kawasan Indo-Pasifik tidak mengorbankan kedaulatan wilayah, terutama di Laut Natuna Utara.
Redaksi Argumen Rakyat Menilai: Langkah Presiden Prabowo ke Washington adalah bukti bahwa Indonesia mulai “menggigit” di panggung global. Namun, redaksi mengingatkan agar penurunan tarif 19% tersebut benar-benar dinikmati oleh rakyat dan pelaku industri kecil, bukan hanya memuluskan jalan bagi importir besar. Diplomasi haruslah menjadi alat untuk kemakmuran rakyat.
Sumber Berita & Referensi:
-
Sekretariat Presiden RI: Laporan Keberangkatan Kunjungan Luar Negeri Februari 2026.
-
Kementerian Luar Negeri RI: Update Diplomasi Bilateral Indonesia-Amerika Serikat.
-
Antara News: Agenda Presiden Prabowo di Washington DC dan Pertemuan Board of Peace.
-
Kompas.id: Analisis Ekonomi Agreement on Reciprocal Trade (ART) 2026.
-
CNBC Indonesia: Proyeksi Dampak Penurunan Tarif Dagang RI-AS.









![Penetapan Indonesia sebagai Dewan HAM PBB 2026. [Foto: kemlu.go.id]](https://argumenrakyat.com/wp-content/uploads/2026/01/IMG_20260110_160318-e1768216728409-360x200.jpg)