Realita yang Tak Tersorot Kamera: Uda Uni Payakumbuh Bongkar Sisi Gelap Viral dan Generasi Instan

- Jurnalis

Selasa, 11 Agustus 2026 - 12:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PAYAKUMBUH — Di balik selempang dan senyum di acara seremonial, ada beban berat yang dipikul oleh Uda dan Uni Kota Payakumbuh. Adrian Ramadan dan Rabiatul Husna, duta muda kota ini, berbagi kisah autentik tentang perjuangan mereka di podcast Kusieh Bendi.

Bukan Sekadar Selempang

“Menjadi duta ini sebenarnya berat, Om. Karena yang ditanggung ini Payakumbuh loh.” Rabiatul Husna (23) membuka diskusi dengan jujur. Bersama Adrian Ramadan (23), mereka adalah Uda dan Uni Kota Payakumbuh — representasi generasi muda yang mempromosikan pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif.

“Jika kita salah langkah, nama kota yang akan menjadi momok nantinya. Jadi bagaimana kami bersikap, bagaimana kami bermanfaat, itu sangat diperlukan saat ini. Bukan hanya sekadar ingin tampil atau mencari keuntungan diri sendiri.”

Dari Panggung ke Ruang Kelas

Berbeda dengan anggapan bahwa Uda/Uni hanya “simbolik” dan “formalitas,” Adrian dan Husna langsung bergerak ke lapangan. Sebulan setelah terpilih, mereka mendatangi SMP 1 Payakumbuh dan SMP Fidalis untuk berbagi dengan para siswa.

Baca Juga:  LKM Sumbar Perjuangkan Perda Adat: Sanksi Sosial Bakal Ditingkatkan Jadi Sanksi Pidana Bagi Pelanggar Norma

“Kami menjelaskan pentingnya budaya bagi anak SMP. Kami juga memberikan motivasi tentang public speaking, bagaimana memahami budaya, wisata, dan lainnya,” cerita Husna.

Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

Host podcast mengingatkan bahwa Uda/Uni di Minangkabau bukan sekadar ajang kecantikan atau ketampanan. “Uda Uni itu jelas budaya. Adat kita basandi syarak, syarak basandi kitabullah — bercermin pada Al-Quran dan Hadis. Di situ ada budi pekerti, ada akhlak.”

Adrian menegaskan pentingnya keseimbangan antara berpikir global dan menjaga kearifan lokal. “Kita tetap berpikiran global, menerima pengaruh luar seperti teknologi. Namun tetap berpikiran pada local wisdom. Karena bagaimanapun kita lahir di sini, kita besar di sini, tugas kita yang melestarikannya.”

Viral Sesaat vs Kontribusi Nyata

Menyikapi fenomena “kejar viral” di kalangan anak muda, Husna memberikan perspektif tajam. “Kalau 1.000 orang melihat, yang peduli sama kita sebenarnya cuma 10 orang. Yang 90% cuma menertawakan — ‘Oh, ternyata dia terjatuh.'”

Baca Juga:  KUSIEH BENDI: Resep Rahasia 'Tabola Bale', Mega-Hit Viral dari Payakumbuh yang Bergema di Istana Merdeka

“Keviralan, keinstanan, serta kepopularitasan yang melonjak dalam waktu signifikan itu hanya sementara,” lanjutnya. Ia membandingkan dengan figur seperti Afgan yang terus relevan karena viral berkat prestasi, bukan sensasi.

Generasi Instan dan Jalan Pulang

Keduanya mengakui stigma “generasi instan” yang melekat pada Gen Z memang ada. “Ada yang mau instan aja semuanya, enggak mau ribet,” aku Adrian. Namun solusinya bukan menolak modernitas, melainkan menyaring sebelum membagikan.

“Kita harus kembali lagi ke adat, kembali lagi ke agama. Karena orang yang hilang arah pasti tersesat. Ada pesan di syarak, pesan di kitabullah,” tutup Husna.


Podcast Kusieh Bendi tayang setiap pekan di YouTube Dimensia Creative, mengangkat kisah dan diskusi bersama tokoh-tokoh inspiratif Sumatera Barat. Ingin mendukung konten positif yang membangun generasi muda Sumbar? Jadilah sponsor — kunjungi dimensiacreative.com/proposal/ atau hubungi 0812-6349-2788.

Kategori: Video

Berita Terkait

KNPI Payakumbuh: Efisiensi Disebut ‘Pisau Bedah’ yang Menghantam Aktivitas Pemuda
Ketua Tim Advokasi: SHP Pasar Blok Barat Tak Berdasar Akta Adat
Advokat Payakumbuh: Putusan Kerapatan Adat Sering ‘Mentah’ di Pengadilan Negeri
Mantan Anggota DPRD 50 Kota: Dewan Sering Hanya Jadi ‘Tukang Stempel’ Eksekutif
Nabil Anjabi: Film Bagus Tak Harus Mahal, Relevansi Cerita yang Menentukan
Pejabat Zaman Now: Ngonten untuk Transparansi, Bukan Sekadar Personifikasi Citra
Kopi Bukan Cuma Penahan Kantuk: Prof. Rince Alfia Fadri Bicara 28 Antioksidan
Ibadah Bukan Tren, Bekal “Pulang Kampung”: Ustaz Afri Eki Rizal soal Haji & Umrah

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 21:06 WIB

KNPI Payakumbuh: Efisiensi Disebut ‘Pisau Bedah’ yang Menghantam Aktivitas Pemuda

Minggu, 11 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Ketua Tim Advokasi: SHP Pasar Blok Barat Tak Berdasar Akta Adat

Minggu, 4 Oktober 2026 - 21:10 WIB

Advokat Payakumbuh: Putusan Kerapatan Adat Sering ‘Mentah’ di Pengadilan Negeri

Kamis, 1 Oktober 2026 - 21:38 WIB

Mantan Anggota DPRD 50 Kota: Dewan Sering Hanya Jadi ‘Tukang Stempel’ Eksekutif

Minggu, 27 September 2026 - 21:09 WIB

Nabil Anjabi: Film Bagus Tak Harus Mahal, Relevansi Cerita yang Menentukan

Berita Terbaru

Pentas seni tradisional randai Minangkabau di lapangan dengan rumah adat beratap gonjong di belakangnya. (Foto: Dok. Wikimedia Commons/Deni Dahniel (CC BY-SA 4.0))

Budaya

Tradisi Lukah Gilo Solok Difilmkan agar Tak Lenyap

Selasa, 20 Okt 2026 - 16:46 WIB

Lembar uang rupiah kertas, ilustrasi pengelolaan anggaran daerah. (Foto: Dok. Wikimedia Commons/Pak.syafda (CC BY-SA 4.0))

Daerah

Efisiensi Anggaran, Pokir DPRD 50 Kota Tak Tersalur

Selasa, 20 Okt 2026 - 16:45 WIB

Personel Gabungan di Monas Bersiap Amankan Demo Jakarta. (Foto: iNews.id)

Nasional

Personel Gabungan di Monas Bersiap Amankan Demo Jakarta

Selasa, 20 Okt 2026 - 11:40 WIB

Dua Kasus Perundungan Anak Berujung Kematian Disorot. (Foto: Dok. DPR)

Nasional

Dua Kasus Perundungan Anak Berujung Kematian Disorot

Selasa, 20 Okt 2026 - 11:34 WIB

Hercules Datangi Kementerian ATR/BPN soal Sengketa Lahan. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Hercules Datangi Kementerian ATR/BPN soal Sengketa Lahan

Selasa, 20 Okt 2026 - 11:29 WIB