JAKARTA, ArgumenRakyat.com — Kemampuan teknis saja tidak cukup untuk bertahan di dunia kerja. Gen Z perlu melatih sejumlah keterampilan dasar, mulai dari literasi media hingga pengelolaan stres, agar mampu beradaptasi sekaligus menjaga keseimbangan hidup.
Generasi Z tumbuh besar di era teknologi digital dan media sosial yang sudah menjadi bagian keseharian. Kemudahan mengakses informasi memberi banyak peluang, tetapi harus dibarengi fokus dan kemampuan memilah agar tidak tenggelam dalam banjir kabar yang belum tentu benar.
Literasi Media dan Fokus Tunggal
Keterampilan pertama adalah literasi media. Tidak semua informasi yang terlihat meyakinkan berasal dari sumber kredibel, sehingga sebelum membagikan atau memakainya, penting memeriksa siapa pembuatnya, apa sumber datanya, dan apakah kabar serupa juga diberitakan sumber tepercaya. “Kaum muda perlu mengatasi tantangan seperti belajar menggunakan AI sebagai alat, bukan sebagai pengganti suara mereka sendiri, atau mampu membedakan antara otoritas dan juru bicara yang lantang,” tutur psikolog Bedford Palmer.
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →Kedua, kemampuan fokus. Notifikasi dan media sosial mudah mengalihkan perhatian, padahal hadir sepenuhnya saat bekerja membantu memahami instruksi dan menyelesaikan tugas dengan teliti. Melatihnya bisa dengan menonaktifkan notifikasi sementara ketika mengerjakan tugas penting, atau menekuni hobi yang menuntut konsentrasi seperti memasak, merajut, berolahraga, dan permainan strategi.
Ketiga, berhenti mengagung-agungkan multitasking. Berpindah-pindah tugas terus-menerus membebani pikiran dan membuat hasil kerja kurang maksimal. Mengerjakan satu hal dalam satu waktu alias monotasking terbukti lebih efektif. Caranya, buat blok waktu untuk tugas tertentu, lalu bekerja di tempat yang minim gangguan, misalnya meluangkan satu jam untuk menyusun laporan sebelum berpindah ke pekerjaan lain.
Mengambil Keputusan, Mengelola Stres, Menerima Kritik
Keterampilan keempat adalah mengambil keputusan. Gen Z kerap terlalu mengandalkan media sosial dan sumber daring untuk menentukan langkah, padahal bergantung pada validasi orang bisa membuat ragu. Beri tenggat pada diri sendiri, pilih langkah paling masuk akal berdasarkan informasi yang ada, dan berkonsultasi dengan atasan atau bagian sumber daya manusia bila persoalan berada di luar kewenangan.
Kelima, mengelola stres. Ketika tuntutan pekerjaan wajar, yang dibutuhkan adalah cara menenangkan diri, misalnya berjalan kaki, berenang, beristirahat sejenak dari media sosial, atau merapikan meja kerja. Menemukan rutinitas yang cocok membantu tubuh dan pikiran kembali siap bekerja.
Keenam, menerima kritik. Masukan tidak selalu menyenangkan, tetapi bisa menjadi kesempatan berkembang. Dengarkan isi pesannya ketimbang cara penyampaiannya, tanyakan langkah perbaikan yang spesifik bila belum jelas, lalu evaluasi dengan tenang dan ambil bagian yang relevan. Semua keterampilan ini tidak tumbuh instan dan hanya terasah lewat latihan rutin.









