SEMARANG, ArgumenRakyat.com — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendorong 4,2 juta unit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di 35 kabupaten/kota untuk naik kelas, dari skala mikro menjadi kecil, menengah, hingga mampu menembus pasar ekspor.
“UMKM harus mempunyai dampak dan naik kelas. Mulai dari mikro menjadi kecil hingga menengah dan dapat ekspor produk. Di saat kondisi geopolitik dan keterbatasan fiskal, UMKM kita harus bisa naik kelas,” kata Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi di Semarang, Rabu (7/10).
Pernyataan itu disampaikan saat membuka Bursa Wirausaha Unggulan 2026 yang digelar Kementerian UMKM di Muladi Dome, Universitas Diponegoro, Semarang. Menurut Luthfi, pameran UMKM dan produk wirausaha menjadi ruang penting untuk pengembangan ekonomi serta membuka akses pasar dan kemitraan yang lebih luas bagi pelaku usaha, terutama anak muda.
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →Pembinaan dan Pembiayaan
Dari 4,2 juta UMKM di Jateng, sekitar 97,95 persen di antaranya masih berstatus usaha mikro. Pemprov Jateng melakukan pendampingan melalui Dinas Koperasi dan UKM. Hingga triwulan II 2026, dinas tersebut telah membina 201.035 unit usaha dengan total nilai aset sekitar Rp39,74 triliun dan omzet sekitar Rp70,74 triliun.
Pemprov juga mendorong lahirnya wirausaha baru sekaligus memperkuat kapasitas pelaku usaha yang sudah berjalan melalui akses yang lebih luas terhadap pembiayaan, pasar, teknologi, dan kemitraan. Dua program utamanya adalah Akademi Balatkop dan Hetero Business Leap yang memberi materi penguatan pola pikir kewirausahaan, pengembangan produk dan pemasaran, pemanfaatan teknologi digital, hingga perluasan pasar.
Pada 2025, Akademi Balatkop mencatat 4.193 pendaftar dengan peminatan terbesar pada digital marketing, keuangan bisnis, dan english conversation. Sepanjang 2026 tercatat 2.282 wirausaha binaan yang terdiri atas 1.398 calon wirausaha, 436 wirausaha pemula, dan 448 wirausaha mapan, dengan bidang peminatan terbesar makanan 48,9 persen, kerajinan 13,3 persen, dan jasa digital 13,3 persen.
Penguatan modal disokong kredit usaha rakyat (KUR) berbunga 6 persen dari Bank Jateng. “Kita gandeng seluruh pemangku kepentingan, kemudian memperbanyak kegiatan pameran sehingga bisa berkembang bersama. Termasuk juga soal digitalisasi,” ujar Luthfi.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Menteri UMKM Helvi Yuni Moraza, Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding, sejumlah kepala daerah di Jateng, 27 lembaga inkubator Jateng-DIY, serta pelaku UMKM.
Cerita Usaha yang Terlihat dan Dipercaya
Di banyak kota, usaha yang tumbuh bukan selalu yang paling besar, melainkan yang paling cepat dikenal orang. Warung kopi kecil yang videonya rutin muncul di beranda, penjahit rumahan yang pembelinya datang dari luar kota, atau produsen kue yang dikenal lewat cerita pemiliknya, semuanya berangkat dari hal yang sama: usaha mereka terlihat dan dipercaya.
Sebab itu, digitalisasi yang diminta Gubernur bukan sekadar punya akun media sosial. Perlu strategi konten yang konsisten, pemahaman digital marketing, dan pengelolaan kanal yang membuat calon pembeli menemukan usaha tersebut justru saat mereka sedang mencari. Inilah pekerjaan rumah yang paling sering membuat UMKM tertinggal, meski produknya sebenarnya berkualitas.
Dimensia Creative menyediakan pekerjaan rumah itu. Lewat produksi video pendek, pengelolaan konten media sosial, hingga podcast Kusieh Bendi yang mempertemukan pengusaha dengan publik, usaha Anda bisa punya wajah dan cerita yang meyakinkan calon pelanggan, bukan sekadar unggahan tanpa arah. Ingat bahwa podcast juga efektif membangun kredibilitas pemilik usaha di depan mitra dan pembeli.
Umkm yang siap naik kelas bisa mulai dari langkah kecil hari ini. Diskusikan kebutuhan konten dan strategi digital Anda dengan tim kami melalui WhatsApp 0812-6349-2788 atau lihat layanan lengkapnya di dimensiacreative.com. Untuk yang ingin tampil sebagai narasumber atau membangun citra lewat podcast, rincian programnya tersedia di dimensiacreative.com/proposal.









