JAKARTA, ArgumenRakyat.com — Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, menyebut masih ada sekitar 2.500 desa yang belum terhubung internet dan menilai digitalisasi menjadi pintu masuk menuju ekonomi digital yang merata.
Kesenjangan Infrastruktur Dasar Masih Jadi Hambatan
Pernyataan itu disampaikan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam Festival Ekonomi dan Keuangan Digital (FEKDI) x Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) di Jakarta, Kamis (24/9/2026). Menurut dia, sebagian daerah bahkan belum terhubung listrik dan telekomunikasi mendasar, sehingga kesenjangan digital masih cukup lebar.
“Ada kurang lebih sekitar 2.500 desa yang belum terhubung dengan internet. Jangankan internet, ada sebagian daerah kita yang masih belum terhubung dengan listrik dan telekomunikasi mendasar,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →AHY menceritakan kunjungannya ke Papua untuk berkoordinasi dengan para pemimpin dari enam provinsi, 40 kabupaten, dan dua kota di wilayah Papua Raya. Para pemimpin di sana menyampaikan kebutuhan infrastruktur dasar, termasuk listrik, air bersih, perumahan layak, jalan penghubung antardaerah, hingga penguatan transportasi maritim.
Digitalisasi Dinilai Pintu Masuk, Bukan Tujuan Akhir
Menurut AHY, peran infrastruktur dan pembangunan kewilayahan sangat strategis bagi terbukanya peluang ekonomi baru yang dihadirkan ekonomi digital. Ia menekankan infrastruktur yang menghubungkan manusia, wilayah, pasar, dan pusat pertumbuhan perlu terintegrasi agar manfaatnya terasa.
Ia mengingatkan bahwa digitalisasi hanya pintu masuk, karena tujuan utamanya adalah menghadirkan kemakmuran dan kesejahteraan bersama. Setelah digitalisasi dan integrasi sistem, data, serta informasi berjalan, efisiensi diyakini menyebar ke seluruh wilayah Indonesia.
“Produktivitas akan naik, competitiveness juga akan dibangun. Daya saing ini baik bagi orang per orang, UMKM, dan juga industri akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi, sekaligus kesejahteraan yang semakin merata,” ungkap Menko IPK.
Karena itu, ia menilai penopang utama pertumbuhan ekonomi tetap infrastruktur yang memadai, mulai dari konektivitas digital hingga jalan dan transportasi yang menghubungkan sentra produksi dengan pasar.
Di banyak desa, pelaku usaha sebenarnya sudah punya produk yang layak bersaing. Yang belum ada sering kali cara memperkenalkannya. Seorang perajin di daerah, misalnya, hanya mengandalkan pembeli sekitar kampung sampai akhirnya nekat merekam proses produksinya dengan ponsel. Rekaman sederhana itu perlahan mendatangkan pesanan dari luar daerah, karena orang bisa melihat sendiri bagaimana barang itu dibuat dan siapa yang mengerjakannya.
Kisah semacam itu menunjukkan bahwa konten video kini berfungsi sebagai aset jangka panjang, bukan sekadar unggahan sekali lewat. Video yang rapi dan rutin dipublikasi membantu usaha kecil ditemukan lewat pencarian, baik di mesin pencari maupun di media sosial. Inilah alasan strategi konten dan optimasi mesin pencari sebaiknya dirancang sejak awal, disertai pemahaman digital marketing yang cukup agar pesan usaha sampai ke calon pembeli yang tepat.
Dimensia Creative hadir sebagai pendamping bagi pelaku usaha yang ingin menata langkah itu, mulai dari produksi konten video, siaran langsung, hingga penyusunan strategi digital marketing. Diskusi awal bisa dibuka lewat WhatsApp 0812-6349-2788 dan daftar layanannya tersedia di dimensiacreative.com.
Reputasi pemilik usaha tak kalah penting dari produknya. Lewat Podcast Kusieh Bendi, seorang pemilik usaha bisa bercerita panjang soal jatuh bangun membangun bisnisnya, sementara tokoh daerah memakai ruang yang sama untuk memaparkan gagasan bagi daerahnya. Percakapan seperti itu membuat wajah dan pemikiran seseorang melekat di ingatan publik, jauh lebih kuat daripada unggahan promosi sesaat. Contoh kolaborasi yang tersedia bisa dilihat di dimensiacreative.com/proposal.









